<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Intan Satu</title>
	<atom:link href="http://intansatu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://intansatu.wordpress.com</link>
	<description>torehan kenangan dan komunikasi warga intan satu</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 Jan 2011 16:32:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='intansatu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Intan Satu</title>
		<link>http://intansatu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://intansatu.wordpress.com/osd.xml" title="Intan Satu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://intansatu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Para Pencuri Baca</title>
		<link>http://intansatu.wordpress.com/2011/01/12/para-pencuri-baca/</link>
		<comments>http://intansatu.wordpress.com/2011/01/12/para-pencuri-baca/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 16:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PEPING AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kenangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://intansatu.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak itu terlihat dekil. Bersandal jepit, kaos oblong berupa-rupa warna dan bercelana kolor. Kulitnya berdebu. Baunya sangat matahari, berkebalikan dengan AC yang kinyis-kinyis menyemprotkan uap berwangi dari tabung-tabung yang tertempel di dinding-dingin. Kehadiran mereka begitu mencolok di antara rak-rak buku &#8230; <a href="http://intansatu.wordpress.com/2011/01/12/para-pencuri-baca/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=194&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anak-anak itu terlihat dekil. Bersandal jepit, kaos oblong  berupa-rupa warna dan bercelana kolor. Kulitnya berdebu. Baunya sangat  matahari, berkebalikan dengan AC yang kinyis-kinyis menyemprotkan uap  berwangi dari tabung-tabung yang tertempel di dinding-dingin. Kehadiran  mereka begitu mencolok di antara rak-rak buku yang terjejer rapi. Sandal  swallow tipis-nya  tak sepadan dengan granit Gramedia Pondok Gede yang  memantul dari bawah.</p>
<p>Tiga bocah laki-laki itu bersembunyi di balik rak. Gelisah sekali.  Sebentar duduk. Sebentar berdiri. Gerakan itu seperti dikomando begitu  mereka mendengar langkah sepatu yang beradu dengan lantai. Matanya  langsung mengawasi.  Kepalanya bergerak secepat elang menyambar mangsa.  Tanpa perintah, tubuhnya dalam posisi siaga satu . Sejenak kemudian,  mereka lungsurkan lagi tubuhnya ke lantai begitu mendapati bukan petugas  berseragam krem yang lewat.</p>
<p>Bocah-bocah itu bukan pencuri. Bukan. Mereka sekedar ‘meminjam’ buku  dari Gramedia yang begitu banyak menarik minat baca tetapi tak sanggup  dibeli. Seperti anakku Vito, bocah-bocah itu sedang gandrung komik.</p>
<p>Kisah bocah-bocah itu memboyongku pada memori 20-25 tahun lalu. Aku  dulu juga begitu. “Mencuri” baca dari rak-rak buku di Toko Buku Gunung  Agung, Kwitang. Bedanya, buku-buku jaman itu jarang sekali yang  disarungi plastik seperti saat ini. Sekarang, sebelum ke kasir, pembaca  harus tahu betul isi buku yang akan dibeli. Paling tidak kita sudah  mengetahui resensinya. Jangan tertipu judul, karena memang hanya  beberapa buku saja yang ada sampel bacanya.</p>
<p>**</p>
<p>Aku menjadwalkan pergi ke Gunung Agung kalau tidak Sabtu, ya Minggu.  Bersama teman-temanku di IntanSatu, usai pulang sekolah (kalau pas  jawdal Sabtu) kami biasanya pergi serombongan. Terkadang bertiga,  seringkali bertujuh bahkan lebih. Tujuannya hanya satu: memburu baca  komik kegemaran. Di sini, kami bisa menghabiskan waktu hingga sore.</p>
<p>Gunung Agung yang mestinya toko—dimana transaksi jual-beli terjadi—di   mata kami Gunung Agung adalah perpustakaan. Bisa membaca tanpa perlu  membeli. Cuma ya itu tadi, kami harus sembunyi-sembunyi membaca. Tidak  enak hati kalau terlalu berlama. Bukan pulang, tapi biasanya aku  bergeser ke rak buku lain. Berpura mencari buku entah apa, aku juga  tidak tahu. Membuka-buka. Tutup lagi. Buka-buka. Tutup lagi. Buka lagi.  Tutup lagi. Begitu sampai pada buku ke delapan atau ke sepuluh, sebelum  kembali ke rak komik. Kerap pula aku keluar toko menunggu jam <em>shift</em> penjaga toko berganti. Tentu penjaga yang baru mengira kami para  pelanggan anyar. Aku tersenyum-senyum sendiri: taktik jitu!</p>
<p>Kami memang seperti “pencuri”. Mengendap-endap, mengdengus-endus,  mengintai-intai, memasang telinga tinggi-tinggi mendapati sedini mungkin  bahaya para penjaga toko. Sebenarnya tidak ada kebijakan pelarangan  bagi pelanggan membaca buku. Tapi, akan diamarahi juga kalau terlalu  lama. Apalagi, jika kami sudah lupa diri. Melantai sesuka-suka.  Terkekeh-kekeh mengamati tingkah Asterix, Tintin, Gober Bebek, Smurf,  Lucky Luke, atau yang agak feminin, Nina. Sering juga aku membaca Lima  Sekawan atau Deni si Manusia Ikan.</p>
<p>Aksi kami ini mungkin juga sudah ditandai, tetapi mereka memilih  diam. Mungkin juga sebab mereka kasihan melihat anak-anak dekil mencari  kesenangan yang tak sanggup dibeli. Kami juga tahu diri. Itu sebabnya,  makin ke sini kunjungan dipersingkat. Bukan apa-apa, soalnya hampir  semua serial komik-komik kocak itu sudah kami lahap. Dan, semuanya  berkat Gunung Agung.</p>
<p>Kalian boleh tidak percaya. Aku bersama teman-teman mampu  mengkhatamkan serial komik-komik itu di “hanya” satu toko buku. Sedikit  saja komik-komik yang bisa aku pinjam dari teman-temanku yang  berkemampuan. Aku masih bisa bersyukur bisa menikmati hobi bacaku, meski  itu harus dilakukan dengan mencuri-curi.</p>
<p>**</p>
<p>Bocah-bocah dekil itu makin khusyu dengan komiknya. Mereka  terkekeh-kekeh, senyum-senyum sendiri. Terlihat sekali  mereka sudah  terlalu jauh terseret dalam alur cerita di dalamnya. Di luar kesadaran,  mereka melantai. Bersender dengan kaki selonjor. Mereka lengah.  Kewaspadaannya pupus ditelan keasyikan. Telinga bocah-bocah bertubuh  kerempeng itu tersumplan cerita, serupa kali Sunter yang tersumbat  sampah.</p>
<p>Seketika mereka tergagap. Wajahnya seperti disiram cuka.  Mata  elangnya tersambar petir lantas mati. Tubuhnya laksana puyuh tersiram  hujan. Gemetar menjalari hingga ujung rambut. Sesosok besar dihadapannya  memaku diri. Ia: pria berseragam krem yang sejak sejam lalu mereka  intai. Petugas itu tersenyum, tidak mengusir, cuma memintanya berdiri.</p>
<p>Mereka panik. Terjanjur terintimidasi oleh bayang-bayangnya sendiri:  kesadaran menjadi orang terpinggir yang mencari kepuasan hobi di  gemerlap toko yang mewah.  Tak sampai hitungan sepuluh detik.  Bocah-bocah itu tutup buku, berjalan cepat keluar toko meninggalkan sisa  cerita yang tersimpan dalam buku yang tak terbeli.</p>
<p>Aku prihatin. Bocah-bocah itu bernasib sama sepertiku dulu…[ahm]</p>
<p>Bojong Kulur: 1201011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/intansatu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/intansatu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/intansatu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/intansatu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/intansatu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/intansatu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/intansatu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/intansatu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/intansatu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/intansatu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/intansatu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/intansatu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/intansatu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/intansatu.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=194&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://intansatu.wordpress.com/2011/01/12/para-pencuri-baca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21778a7aadc2da2f5e6a33d35e086fd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Botak Seng</title>
		<link>http://intansatu.wordpress.com/2011/01/11/botak-seng/</link>
		<comments>http://intansatu.wordpress.com/2011/01/11/botak-seng/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Jan 2011 06:55:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PEPING AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://intansatu.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Namanya memang unik: Botak Seng. Branding yang mudah diingat, sangat menjual dan tidak biasa. Begitulah stategi marketing. Dan, dengan sempurna, Aseng menempelkan nama itu pada plang di bengkelnya yang masyhur sebagai ahlinya power steering. Saya empat  hari lalu menyambangi bengkel &#8230; <a href="http://intansatu.wordpress.com/2011/01/11/botak-seng/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=190&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Namanya memang unik:  Botak Seng.<em> Branding</em> yang mudah  diingat, sangat menjual dan  tidak biasa. Begitulah stategi <em>marketing</em>.  Dan, dengan  sempurna, Aseng menempelkan nama itu pada plang di  bengkelnya yang  masyhur sebagai ahlinya <em>power steering</em>.</p>
<p>Saya  empat  hari lalu menyambangi bengkel keduanya di Jatiwaringin,  tepatnya  Pangkalan Jati, Kalimalang, Jakarta Timur.  Meski bengkel  kedua, si  pemilik bengkel ini lebih sering ‘berkantor’ di sana, walaupun  rumahnya  sendiri sebenarnya di sekitar Grogol yang lebih dekat dengan  bengkel  pertamanya di Tubagus Angke.</p>
<p>Aseng berperawakan tinggi  besar, berbadan tegap, hobinya menggunakan  celana jeans, sepatu boots  kulit, kemeja dibuka satu kacing dan bertopi:  sangat laki-laki. Untuk  aksesori yang tarakhir ini tentu saja untuk  menutupi kepalanya yang  botak. Rautnya  memang cukup berumur, bertolak  dengan penampilannya  yang macho, dan bilangan usianya yang menurutnya,  58 tahun. Jujur saya  sebenarnya ragu dengan pengakuannya.</p>
<p>Saya  mengetahui nama  Botak Seng dari seorang kawan yang kebetulan  pernah mengalami  kerusakan pada kemudi. Ia merekomendasi dan saya  menguatkannya dengan <em>googling</em> di internet. Dan, namanya cukup  kondang di dunia maya. Banyak  testimoni kepuasan konsumen setelah  bertandang dan didandani kekuatan  kemudinya.</p>
<p>Pagi itu saya adalah konsumen pertamanya.  Walaupun buka jam delapan  pagi, tetapi Sang Pemilik baru datang sekitar  pukul sepuluh pagi.  Mekanik memang tetap bisa bekerja,cuma karena  onderdil utamanya di dalam  toko yang terkunci, terpaksa harus menunggu  untuk penyelesaian. Botak  Seng menjanjikan pekerjaan beres dalam waktu 3  jam. Dan, itu terbukti!  Hanya saja karena itu tadi, si Aseng datang  jam 10, jadi agak molor  sekitar 45 menit.</p>
<p>Saya cukup lama  berbincang-bicang dengan pemilik bengkel Botak Seng  ini. Orangnya  cukup ramah dan asyik diajak ngobrol. Logat Medannya masih  terasa  kental, dan tidak luntur dengan gaya betawi yang telah  disinggahinya  sejak tahun 1970.</p>
<p>Pengalamanya di bidang hidrolik  didapatnya saat ia bekerja di Hong  Kong. Di sana Aseng muda menggeluti  pabrik yang mengkhususkan diri pada  hidrolik termasuk <em>power  steering</em>. Sebelumnya, ia juga pernah  bekerja di pabrik jam, Seiko.  Di sini ia dipercaya untuk mengontrol mutu  kedap air arloji. Berbekal  pengalaman yang cukup, ia memberanikan diri  membuka bengkel sendiri.</p>
<p>Tahun  1997, bengkel pertamanya di Medan pun beroperasi. Sukses. Ia  merambah  Jakarta dan membuka di Tubangus Angke. Sukses. Ia melanjutkan   ekspansinya ke Jatiwaringin. Sukses. Ia membuka lagi di Fatmawati. Saat   ini total bengkelnya ada enam. Tiga Jakarta, dan satu masing-masing di   Semarang, Medan dan Surabaya. Dalam waktu dekat ia akan memindahkan   bengkel kecilnya di Medan pindah ke tempat lebih besar. Dan, Kemayoran   akan dibidik menjadi sasaran baru bengkelnya.</p>
<p>Kepuasan  nomor satu, itu kalimat yang terucap ketika saya menanyakan  mengapa  bengkelnya bisa begitu ramai. Baginya, kepuasan pelanggan tidak  bisa  ditukar dengan apapun. Sebab, dari sanalah muncul kepercayaan.  Kepuasan  dan kepercayaan ini berkolaburasi membuat mekanisme promosi  yang  dahsyat. Itu sebabnya, tanpa promosi bengkelnya selalu dijubeli   pelanggan.</p>
<p>Satu lagi, ia tidak pelit untuk dimintai  konsultasi. HP-nya selalu  on, dan beragam pertanyaan akan dijawab.  Merepotkan memang, tapi justru  hal-hal seperti inilah yang rupanya  membuat Botak Seng makin  diminati—selain  tentu saja karena hasil  kerjanya yang baik. Terbukti ia  berani memberikan garansi hingga 1  tahun. Kalau jelek tentu risikonya  besar: kekecewaan dan bengkelnya  akan ramai, bukan oleh pelanggan baru,  tetapi pelanggan yang menuntut  perbaikan ulang.</p>
<p>Dalam obrolan itu, saya sempat ingin  memprofilkan dia, tetapi dengan  tegas menolak. Alasannya sungguh  membuat saya tercengang.  “Jangan….Jangan…nanti bengkel saya ramai.”  Saya sontak menyambar, “Kok  gitu,…bukannya seneng kalau bengkel tambah  ramai?”</p>
<p>Menurutnya, ia memang belum siap untuk didatangi  lebih banyak  pelanggan. Kapasitas bengkelnya memang kecil. Paling  banyak untuk enam  mobil, dengan jumlah mekanik sekitar 13 orang. Dengan  lebih banyak  konsumen ia mengkhawatirkan pelanggan kecewa karena antri  lama dan ia  tidak bisa melayani dengan baik karena dikejar waktu.  “Lebih baik  seperti ini saja dulu,” ujarnya merendah.</p>
<p>Cina-Medan  satu ini memang tidak kemaruk, dan realistis menjaring  pelanggan.  Pelayanannya sungguh total. Meski pemilik, ia juga tidak  lantas  berleha-leha dibalik kursi. Segera setelah saya berbincang, ia  berganti  seragam bengkel dan menangani mobil-mobil yang antri minta  dibenahi.  Tangannya pun seketika berlumur oli. Mobil saya bahkan dua  kali  ditangani, setelah untuk yang pertama terlihat ada pekerjaan dari   mekaniknya yang kurang beres.</p>
<p>Totalitas membawa sukses.  Inilah barangkali kesimpulan saya. Aseng  begitu tekun menjalani  bisnisnya. Bukan cuma bengkel perbaikan, ia juga  memiliki pabrik di  Cikarang untuk produksi <em>spare part power steering</em>.   Barang-barang itu di sebar ke berbagai bengkel. Saya sempat bertanya,   bagaimana ia bisa meyakini bisnis yang spesifik ini bisa berkembang.</p>
<p>Ia  tidak menjawab secara langsung, tetapi berputar memberi  penjelasan.  Katanya, kerusakan <em>power steering</em> itu hanya 1:100.  Artinya,  dari 100 mobil yang rusak, hanya satu yang mengalami keluhan  pada  kemudi. Karena memang umur <em>power steering</em> cukup lama: 3-5   tahun. Tapi, dari yang sedikit itu justru di sanalah peluang terbuka   lebar.</p>
<p>Ia nampaknya melihat dari kaca yang terbalik.  Ketika orang enggan  terjun di bisnis ini, si Botak plontos itu malah  masuk. Tentu tidak  dengan modal nekat, tetap dengan ketekunan dan  keahlian tentu saja.</p>
<p>Saya pun penasaran bagaimana ia bisa  memberi nama bengkelnya seunik  itu. Sebagai orang yang pernah bekerja  di periklanan ia memahami  sepenuhnya kebutuhan sebuah merek: unik dan  mudah diingat. Dan,  kebetulan ia memiliki itu.</p>
<p>Suatu  ketika, bos lamanya pernah marah-marah karena pekerjaannya yang   dianggap tidak beres. Sang Bos pun berteriak memanggilnya, “Eh,…Botak   sini!” ia menjawab gugup, “Yang mana Pak,” Sang Bos pitam, “Ya kamu,   Asengkan? Botak Seng!” Rupanya, di tempanya bekerja itu ada dua orang   berkepala botak.</p>
<p>Kejadian itu cukup membekas. Dan kelak,  dijadikan nama bekel yang  melambungkan namanya. “Saya kelihatannya  harus berterima kasih ya sama  bos saya,…” katanya terkekeh. []</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bojong  Kulur: 11:01:2011</p>
<p>﻿</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://ahmadi74.wordpress.com/2011/01/10/botak-seng/%EF%BB%BF" target="_blank">http://ahmadi74.wordpress.com/2011/01/10/botak-seng/﻿</a></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/intansatu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/intansatu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/intansatu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/intansatu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/intansatu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/intansatu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/intansatu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/intansatu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/intansatu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/intansatu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/intansatu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/intansatu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/intansatu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/intansatu.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=190&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://intansatu.wordpress.com/2011/01/11/botak-seng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21778a7aadc2da2f5e6a33d35e086fd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bulan Merah di Pemalang</title>
		<link>http://intansatu.wordpress.com/2010/10/04/bulan-merah-di-pemalang/</link>
		<comments>http://intansatu.wordpress.com/2010/10/04/bulan-merah-di-pemalang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Oct 2010 03:53:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PEPING AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://intansatu.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Perlukah kita menebus puluhan nyawa sebelum kesadaran itu datang? Haruskah Tuhan ‘membangunkan’ kita dengan cara yang kasar, yang kamu juga pasti tidak menyukainya? Inikah cara yang kalian pilih, sampai akhirnya ibu-ibu menjadi janda, anak-anak menyandang yatim, suami kehilangan kekasih hidupnya, &#8230; <a href="http://intansatu.wordpress.com/2010/10/04/bulan-merah-di-pemalang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=186&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Perlukah kita menebus puluhan nyawa sebelum kesadaran itu datang? Haruskah Tuhan ‘membangunkan’ kita dengan cara yang kasar, yang kamu juga pasti tidak menyukainya? Inikah cara yang kalian pilih, sampai akhirnya ibu-ibu menjadi janda, anak-anak menyandang yatim, suami kehilangan kekasih hidupnya, orangtua tepekur meratapi takdirnya yang terdahului anaknya?</em></p>
<p><em>Darah itu terlanjur tumpah, saudaraku. Tangis itu sulit lagi diredakan dengan uang-uangmu. Apa kamu pikir santunanmu bisa menyumpal lolongan bayi-bayi mungil yang tidak bisa lagi diteteki ibunya? Kemana pula hatimu ketika dibenturkan pertanyaan dari anak-anak kemana bapaknya? </em></p>
<p><em>Lalu dimana nuranimu saat mendapati undangan resepsi yang tak pernah bisa didatangi karena salah satu mempelainya terbujur kaku? Coba kalian rasakan remuknya orang tua menemukan generasinya putus, habis sebab tak satupun dari catur keluarga itu utuh?</em></p>
<p><em>Sistem dan </em>human error<em>, itu saja alasanmu. Sudah ratusan kali ku dengar alasanmu itu, sampai kapalen rasanya. Kamu pikir aku tidak bosan? Apa mereka pikir bisa dibuai dengan alasanmu itu. Paling jauh kalian melakukan investigasi, kajian, analisis, seminar, lantas selesai sampai di situ. Sampai kemudian alasan itu datang lagi mengiringi kecelakaan-kecelakaan berikutnya…</em></p>
<p>CUKUP. CUKUP<em>, kataku. Kalian berhentilah berkilah. Dulu juga begitu. Berjanji ingin berbenah, tapi mana, </em>MANA<em>? Kalian kira kami sudah lupa. Kesalahan sama terjadi lagi. Dan kalian berdiskusi lagi. Seminar lagi. Berdiskusi lagi. Seminar lagi.</em></p>
<p><em>Aku merintih melihat 36 nyawa harus meregang di pagi buta, di tengah embun pagi Pemalang yang masih merangkak menuruni langit. Gerbong-gerbong yang mulanya elok membelah sawah-sawah hijau, kontan berbalik wajah : musam memancarkan aroma teror.</em></p>
<p><em> Padi-padi itu, seperti dijambaki angin, gelisah menyaksikan tulang-tulang remuk, seremuk rangkaian baja yang berderet-deret saling-silang menciumi satu dengan lainnya.  Bintang, dan bulan semirip kejora memijar merah, mengapung di langit yang tak teguh : limbung mengikuti para korban yang berebut keluar, menjemput lagi nyawanya yang tadi sempat tertinggal di dalam gerbong.<br />
</em></p>
<p><em>Sekarang, lantunan Yasin berkumandang menggema menyerapi relungmu. Kidung kematian bahkan bisa membuat airmatamu leleh. Aku percaya itu empati dari rasa manusiamu. Tapi buatku itu tidak cukup. Kamu harus segera bertindak </em>NYATA<em>.</em></p>
<p><em> </em> <em>Bukan hanya menghukum masinis yang bergaji kecil, walau itu perlu. Bukan. Bukan itu. Kamu kelihatannya butuh revolusi kecil agar bisa berubah.<br />
</em></p>
<p><em>Aku tidak paham cara kerjamu. Yang kutahu, kami butuh keamanan. Bukankah itu perlunya kalian kami gaji?  Memikirkan keperluan kami agar bisa berjalan aman? Kalau kejadian mengerikan terus terulang, kalian berarti tidak amanah. Kami tidak menakut-nakuti. Kalian tunggu saja pembalasan bagi orang yang tidak amanah. []</em></p>
<p>Jati Padang: 03:10:2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/intansatu.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/intansatu.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/intansatu.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/intansatu.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/intansatu.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/intansatu.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/intansatu.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/intansatu.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/intansatu.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/intansatu.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/intansatu.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/intansatu.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/intansatu.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/intansatu.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=186&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://intansatu.wordpress.com/2010/10/04/bulan-merah-di-pemalang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21778a7aadc2da2f5e6a33d35e086fd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendinginan Global</title>
		<link>http://intansatu.wordpress.com/2010/07/05/pendinginan-global/</link>
		<comments>http://intansatu.wordpress.com/2010/07/05/pendinginan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 13:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PEPING AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[coretan]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://intansatu.wordpress.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah anda, bumi sebenarnya membutuhkan pemanasan global. Isu ini mungkin saja membingungkan.  Tapi, ini sama sekali bukan lelucon. Hanya saja rentang ketika isu itu berkembang  terjadi dalam kurun  40 tahun lalu. Lonceng-lonceng tanda bahaya tentang pendinginan global, sama ramainya dengan &#8230; <a href="http://intansatu.wordpress.com/2010/07/05/pendinginan-global/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=183&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahukah anda, bumi sebenarnya membutuhkan pemanasan global. Isu ini  mungkin saja membingungkan.  Tapi, ini sama sekali bukan lelucon. Hanya  saja rentang ketika isu itu berkembang  terjadi dalam kurun  40 tahun  lalu.</p>
<p>Lonceng-lonceng tanda bahaya tentang pendinginan global, sama  ramainya dengan isu pemanasan global saat ini. Beberapa artikel di eropa  dan Amerika menyebutkan bahaya pendinginan global bukan isapan jempol.  Belahan Bumi Utara misalnya, antara 1945 sampai 1968 mengalami penurunan  temperatur hingga 0,28 derajat Celcius dan bertambah besarnya tutupan  salju di sana. Ditambah lagi, intensitas terpaan sinar Matahari di  Amerika Serikat makin sedikit.</p>
<p>Begitu takutnya sampai-sampai <em>Newsweek</em> memprediksi, “telah  membawa planet ini kira-kira satu per enam menuju Zaman Es seperti yang  terjadi beberapa kali.”</p>
<p>Lantas mengapa sekarang isu itu bisa berubah drastis? Dalam bukunya,  “Super Freakonomics”, duet penulis Steven D. Levitt dan Stepehn J.  Dubner menjelaskan secara lugas. Data menjadi kekuatan buku ini. Serial  buku kedua dari karya sebelumnya—“Freakonomics”, yang begitu  mengguncang—bisa  dikatakan sebagai bantahan berbagai norma dan  keyakinan yang dianut kebanyakan masyarakat. Levitt dan Dubner  benar-benar membongkar logika kita melalui data-data yang disajikan.</p>
<p>Kebanyakan dari kita percaya pemanasan global diakibatkan oleh  kendaraan bermotor, pabrik dan pesawat. Tapi, meminjam hasil penelitian  riset dari dua peneliti Carnegie Mellon, Christopher Weber dan H. Scott  Matthews, menyebut hewan ternak seperti kerbau, sapi, kambing justru  sebagai “agen paling berbahaya”. Embusan nafas, kentut, sendawa, kotoran  mereka justru menyumbang 25 kali lebih dahsyat dari efek rumah kaca  melalui gas metana yang dilepaskan.</p>
<p>Dan, bencana akibat limbah binatang-binatang itu (terutama kuda)  sejak dulu sudah meresahkan dan mengancam lingkungan. Tahun 1898 New  York menjadi tuan rumah internasional penataan kota. Sebagian besar  kota-kota di dunia mengalami permasalahan sama : kotoran kuda.</p>
<p>Persis seperti yang terjadi saat ini, pemecahan masalah ancaman  lingkungan tidak terselesaikan, sampai kemudian ditemukannya teknologi  yang menyingkirkan peran kuda. Akankah ini terjadi lagi? Lantas  kira-kira temuan apa yang bisa mengalihkan penggunaan BBM sebagai motor  penggerak? Jangan pernah berfikir untuk kembali ke alam, karena itu akan  ditentang oleh Levitt dan Dubner. Bantahannya secara ilmiah bisa  dibuktikan oleh mereka.</p>
<p>“Super Freakonomics” kelihatannya memang dibuat bukan sekedar   sensasi yang menghebohkan. Keduanya percaya, karya yang menggegerkan  tidak akan bertahan lama kalau hanya sekedar fitnah. Maka, riset  berharga mahal mereka lakoni, meski hanya untuk membuktikan tidak  efektifnya sebuah tempat duduk pengaman anak (<em>child safety seat</em>/<em>car  sea</em>t).</p>
<p>Di Amerika, tingkat kecelakaan sangat tinggi. Kebiasaan orang-orang  yang sering menghabiskan waktu di mobil menjadi pemicu utamanya.  Sehingga, tak heran jika kematian akibat lalu-lintas mencapai 40.000  pertahun. Jumlah yang sama untuk tingkat kecelakaan tahun 1950. Hanya  saja karena jarak tempuh rata-rata yang dilalui berbeda, tingkat  kematian saat ini terasa begitu tinggi. Untuk menguranginya, para  pengguna diwajibkan untuk menggunakan pengaman, termasuk anak-anak.</p>
<p>Masalahnya, <em>car seat</em> atau <em>booster seat</em> berharga  terlalu mahal, juga tidak efisien meski diakui efektif . Bayangkan, jika  anda memiliki tiga anak, betapa sumpeknya mobil anda. Tergerak akan  kenyataan ini, duet penulis mencari laboratorium yang bersedia melakoni  uji coba mereka dengan imbalan 3.000 dolar dan ternyata sulit. Mereka  mengakui ilmu memang mahal. Namun hasil yang ditunjukkan laboratorium  bisa membuat para produsen car seat marah besar!</p>
<p>“Ulah” Levitt dan Dubner bukan itu saja. Para dokter juga bisa  menggeleng-geleng  dengan hasil-hasil risetnya. Tingkat kematian pasien  yang ditangani dokter terbaik ternyata jauh lebih tinggi ketimbang  dokter biasa. Mereka tidak menuduh, karena statistik membuktikan  demikian. Temuannya juga masuk akal. Pasalnya, para dokter terbaik  umumnya menangani penyakit-penyakit berat. Jadi, kalau mengukur  keberhasilan dokter dari tingkat kematian sungguh menyesatkan.</p>
<p>Namun, dokter pula yang menyebabkan begitu tingginya angka kematian  ibu melahirkan, jika dibandingkan dengan bidan. Alasan yang dikemukakan  cukup mencengangkan. Terasa sepele namun begitu penting, bahkan termat  penting. Dokter rupanya mempunyai perilaku minus : sedikit yang  mempunyai kebiasaan cuci tangan.</p>
<p>Buku ini memang tidak memfitnah, sebab mendasarkan pada data-data  yang diramu menjadi sebuah kalimat yang menghentak-hentak di tiap  lembarnya. Kerangka utama buku ini memang penyajian data yang disusun  dengan begitu teliti meski tidak sepenuhnya berdasarkan riset yang  seimbang.</p>
<p>Misalnya, secara sembrono mereka menyebutkan Mei 2010 sebagai bulan  paling tidak baik saat melahirkan. Ini terutama diakibatkan karena umat  muslim dan tentunya ibu-ibu muslim kemungkinan besar menjalani puasa di  saat kehamilan awal yang bertepatan dengan Ramadhan pada 21 Agustus  sampai 19 September  2009. Dan ini prediksi, belum ada riset berikutnya!</p>
<p>Lagi pula penelitian ini hanya melibatkan satu kota Michigan yang  terdapat banyak umat Islam—dan karena kebetulan pula siang di sana  sampai 15 jam. Bagaimana dengan belahan dunia lain? Yang juga tidak  diketahui, puasa bukan harga mati. Bagi orang-orang tertentu, jelas  Islam memberikan pengecualian, termasuk pada ibu-ibu hamil.</p>
<p>Terlepas dari itu, buku ini memang diakui membuat mata kita terbuka  lebar terhadap fakta-fakta yang selama ini tersembunyi dan tak diduga.  Levitt yang merupakan seorang professor dari University of Chicago lihai  mengolah data mentah, hasil riset, serta survei dari ribuan dokumen.  Sementara Dubner mampu menyelusup ke lapangan, dari pelacur hingga geng  narkoba. Mungkin karena berlatar wartawan dan penulis pada <em>The New  York Times Magazine</em>.</p>
<p>“Super Freakonomics” tidak sekadar memberikan fakta, juga menawarkan  beberapa  solusi meski  sulit untuk diterapkan. Ilmu ekonomi terasa  begitu ringan disajikan, mudah dicerna dan menyegarkan. Sisi sosial kita  tentang altruisme juga digugat. Benarkah kita tergerak hanya  berdasarkan insentif? Kalau iya, apa bedanya kita dengan monyet? [ahm]</p>
<p>Bojong Kulur: 16:06:2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/intansatu.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/intansatu.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/intansatu.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/intansatu.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/intansatu.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/intansatu.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/intansatu.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/intansatu.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/intansatu.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/intansatu.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/intansatu.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/intansatu.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/intansatu.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/intansatu.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=183&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://intansatu.wordpress.com/2010/07/05/pendinginan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21778a7aadc2da2f5e6a33d35e086fd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bersekutu Melawan Dewa</title>
		<link>http://intansatu.wordpress.com/2010/05/03/bersekutu-melawan-dewa/</link>
		<comments>http://intansatu.wordpress.com/2010/05/03/bersekutu-melawan-dewa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 03:52:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PEPING AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kenangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://intansatu.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Ulasan Film &#8220;Clash of The Titans&#8221; Di jagad ini tidak ada yang sempurna, termasuk para Dewa. Manusia membutuhkan Dewa untuk kelangsungan hidup. Begitupun, keabadian Dewa sangat ditentukan doa-doa umat manusia. Lantas, apa jadinya jika dua kekuatan ini saling berselisih. Inilah &#8230; <a href="http://intansatu.wordpress.com/2010/05/03/bersekutu-melawan-dewa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=179&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ulasan Film &#8220;Clash of The Titans&#8221;</p>
<p><a href="http://intansatu.files.wordpress.com/2010/05/clash-of-the-titans.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-180" title="clash  of the titans" src="http://intansatu.files.wordpress.com/2010/05/clash-of-the-titans.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Di jagad ini tidak ada yang sempurna, termasuk para Dewa. Manusia membutuhkan Dewa untuk kelangsungan hidup. Begitupun, keabadian Dewa sangat ditentukan doa-doa umat manusia. Lantas, apa jadinya jika dua kekuatan ini saling berselisih. Inilah yang ditawarkan Warner Bros Pictures lewat film “Clash of The Titans”.</p>
<p>Manusia mungkin ditakdirkan untuk sulit berterima-kasih, bahkan membangkang kalau perlu melawan. Apa bisa, manusia melawan Tuhan (Dewa)? Anda tidak usah memakai logika untuk bisa menikmati film ber-genre petualangan dan fantasi seperti ini. Nikmati saja. Lebih tidak masuk akal lagi, ketika anda mendapati bahwa Dewa Zeus (Liam Neeson) menzinahi wanita dari golongan manusia.</p>
<p>Begitu kasihnya Zeus pada manusia, ia ingin memberikan pelajaran pada Raja Acrisius (Jason Flemyng) yang terang-terangan murka pada para Dewa. Zeus ingin mengikat Acrisius lewat benih di istrinya, yang mengandung putra setengah Dewa : Perseus. Namun ditolak Acrisius dan justru, bayi dan beserta istrinya ditenggelamkan ke laut.</p>
<p>Dewa tentu lebih berkuasa. Bayi mungil ini bisa bertahan hidup. Sialnya, lelaki inilah yang kelak, dengan gagah bisa membalaskan dendam manusia, terutama pada Dewa kegelapan dan kejahatan, Hades (Ralph Fiennes), yang telah membunuh ibu, ayah tiri, dan adiknya.</p>
<p>Perseus yang diperankan Sam Worthington harus diakui kurang memukau dan meyakinkan. Tentu jauh jika anda membandingkannya dengan Russell Crowe dalam “Gladiator”. Special effect yang dipamerkan film berdurasi 1 jam 35 menit ini juga biasa saja. Tidak ada hal istimewa, dan cenderung seragam saat kita menyaksikan film sejenis seperti “The Mummy”, “Lord of The Ring”, Troy”, “Scorpion King” atau “Beowulf” dan film serupa lainnya.</p>
<p>Sutradara Louis Letterier memang berusaha memaksimalkan para pemain, dengan pengambilan sudut-sudut gambar yang memang sulit. Kecepatan pemain harus maksimal untuk memadankan teknologi animasi, terutama saat melawan penyihir berkepala ratusan ular. Di akhir cerita kepala ular ini digunakan untuk membunuh Kraken, raksasa penghancur saat manusia di kerajaan Argos tidak bisa menumbalkan Andromeda (Alexa Davalos), sang Putri, sebagai wujud kepatuhan pada para Dewa.</p>
<p>Beginilah enaknya fiksi. Dewa pun bisa dikalahkan. Bahkan dengan bantuan iblis, yang menginginkan betul Dewa dibinasakan. Hades akhirnya mampu diusir dan dikirim ke negeri bawah tanah (neraka), tempat asalnya.</p>
<p>Zeus tentu saja bisa tetap bertahan. Ia yang “melahirkan” para manusia dan selalu menjaganya. Maka, ia membutuhkan cinta dan doa-doa yang dipanjatkan umat manusia. Zeus berpesan : “Jangan pernah melemah. Kelemahan manusia hanya membangkitkan Hades (sifat-sifat jahat)”. Bagaimana? [ahm]</p>
<p>Bojong Kulur: 29:04:2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/intansatu.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/intansatu.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/intansatu.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/intansatu.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/intansatu.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/intansatu.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/intansatu.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/intansatu.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/intansatu.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/intansatu.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/intansatu.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/intansatu.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/intansatu.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/intansatu.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=179&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://intansatu.wordpress.com/2010/05/03/bersekutu-melawan-dewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21778a7aadc2da2f5e6a33d35e086fd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://intansatu.files.wordpress.com/2010/05/clash-of-the-titans.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">clash  of the titans</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hal Sepele Juga Bisa Menarik</title>
		<link>http://intansatu.wordpress.com/2010/04/28/hal-sepele-juga-bisa-menarik/</link>
		<comments>http://intansatu.wordpress.com/2010/04/28/hal-sepele-juga-bisa-menarik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 05:14:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PEPING AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://intansatu.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Ulasan Film &#8220;Cop Out&#8221; Kalau anda kangen gaya kocak Bruce Willis dalam serial TV “Moonlighting” mungkin saatnya menyaksikan film terbarunya, “Cop Out”. Willis yang memerankan detektif Jimmy Monroe dipaksa melucu setelah sebelumnya dijargonkan sebagai super jagoan -setidaknya dalam “Die Hard”- &#8230; <a href="http://intansatu.wordpress.com/2010/04/28/hal-sepele-juga-bisa-menarik/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=176&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ulasan Film &#8220;Cop Out&#8221;</p>
<p><a href="http://intansatu.files.wordpress.com/2010/04/copout1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-177" title="copout" src="http://intansatu.files.wordpress.com/2010/04/copout1.jpg?w=300&#038;h=198" alt="" width="300" height="198" /></a></p>
<p>Kalau anda kangen gaya kocak Bruce Willis dalam serial TV “Moonlighting” mungkin saatnya menyaksikan film terbarunya, “Cop Out”. Willis yang memerankan detektif Jimmy Monroe dipaksa melucu setelah sebelumnya dijargonkan sebagai super jagoan -setidaknya dalam “Die Hard”- beberapa tahun silam.</p>
<p>Dipasangkan dengan Tracy Morgan, sesungguhnya Willis nampak tenggelam. Entah, apa yang diinginkan sang sutradara, Kevin Smith, yang meminta Morgan terlihat begitu berlebihan. Willis ibarat pelakon Cahyono di Jayakarta Grup, yang hanya memberi umpan-umpan kelucuan pada mitranya di film tersebut, Paul Hodges.</p>
<p>Sebagai aktor serba-bisa, peran Willis memang tetap enak ditonton. Sayang, alur cerita yang disajikan duet Robb Cullen dan Mark Cullen begitu ringan, bahkan terlalu sederhana. Mungkin karena film ini memang ber-genre laga, kriminal yang setengah humor. Terlebih saat Jennifer Euston, si penentu peran, memasangkan Seann William Scott sebagai Dave, yang tampil jorok di American Pie.</p>
<p>Dave inilah biang keonaran. Ketika Jimmy Monroe ingin menjual kartu baseball kesayangannya, Dave mencurinya, tepat ketika transaksi akan dilakukan di sebuah toko. Satu set kartu legendaries “Andy Pafko” itu bukan barang murah, karena nilainya saja bisa mencapai 83 ribu dolar AS. Bukan tanpa alasan Monroe menjual kartu pemberian ayahnya itu. Polisi veteran NYPD ini ingin membuktikan pada mantan istrinya, ia mampu membiayai kebutuhan pernikahan anaknya senilai 43 ribu dolar.</p>
<p>Perburuan Dave pun dimulai. Beberapa kejadian kocak pun dimunculkan. Hodges sering berlakon tidak pada tempatnya, sehingga film ini terasa janggal dan mengganggu. Namun, inilah hebatnya Hollywood, persoalan sepele pun bisa dibuat film asyik. Ketegangan hadir saat Dave mengaku bahwa kartu baseball itu dijual ke gembong narkoba New York, Poh Boy (Guillermo Diaz).</p>
<p>Persoalan makin rumit, karena adik kesayangan Poh Boy, Juan (Cory Fernandez), tewas saat kejar-kejaran dengan Monroe dan Hodges di dalam pemakaman. Beruntung film ini masih menampilkan wanita cantik Anna de la Reguera, yang memukau saat memerankan Gabriela, si pembawa flash drive yang menyimpan begitu banyak transaksi Poh Boy.</p>
<p>Ujung film ini tentu saja bisa anda tebak. Poh Boy tewas, dan Gabriela yang terandera bisa selamat. Serta, pernihakan anak Monroe tetap bisa berlangsung.</p>
<p>Cuma ini yang di luar dugaan : kartu baseball yang menjadi inti cerita justru hancur, terkena serangan mereka sendiri, saat menyarangkan peluru di dada kiri Poh Boy. Sebuah satire yang mengejutkan! [ahm]</p>
<p>Gelora: 27:04:2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/intansatu.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/intansatu.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/intansatu.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/intansatu.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/intansatu.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/intansatu.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/intansatu.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/intansatu.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/intansatu.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/intansatu.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/intansatu.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/intansatu.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/intansatu.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/intansatu.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=176&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://intansatu.wordpress.com/2010/04/28/hal-sepele-juga-bisa-menarik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21778a7aadc2da2f5e6a33d35e086fd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://intansatu.files.wordpress.com/2010/04/copout1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">copout</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kejujuran Setengah Hati</title>
		<link>http://intansatu.wordpress.com/2010/04/22/kejujuran-setengah-hati/</link>
		<comments>http://intansatu.wordpress.com/2010/04/22/kejujuran-setengah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 05:53:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PEPING AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://intansatu.wordpress.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Ulasan Film &#8220;Green Zone&#8221; Apa jadinya jika sebuah berita hanya mengandalkan pada satu sumber, tanpa cek ulang. Padahal, isu yang diangkat begitu sensitif. Lebih merepotkan lagi, laporan ini dimuat dalam satu surat kabar terkemuka : Wall Street Journal. Irak yang &#8230; <a href="http://intansatu.wordpress.com/2010/04/22/kejujuran-setengah-hati/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=171&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ulasan Film &#8220;Green Zone&#8221;</p>
<p><a href="http://intansatu.files.wordpress.com/2010/04/green-zone.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-172" title="green zone" src="http://intansatu.files.wordpress.com/2010/04/green-zone.jpg?w=300&#038;h=198" alt="" width="300" height="198" /></a>Apa jadinya jika sebuah berita hanya mengandalkan pada satu sumber,  tanpa cek ulang. Padahal, isu yang diangkat begitu sensitif. Lebih  merepotkan lagi, laporan ini dimuat dalam satu surat kabar terkemuka :  Wall Street Journal.</p>
<p>Irak yang berkecamuk di awal tahun 2003 begitu menyudutkan Amerika  Serikat (AS). Isu Pemerintahan Saddam Hussein soal <em>Weapons of Mass  Destruction (WMD) </em>atau senjata pemusnah massal benar-benar harus  bisa dibuktikan. Hanya alasan itulah AS mampu menjustifikasi agresinya.   Film Green Zone (Universal) sungguh sebuah karya yang ingin mereposisi  wajah AS secara tanggung. Ingin berusaha jujur, tapi di akhir cerita  tetap dibiarkan menggantung. Atau jangan-jangan secara diam-diam memang  tidak ingin disalahkan.</p>
<p>Untuk tugas maha berat itulah maka, AS mengirim Kepala Perwira Tinggi  Roy Miller (Matt Damon) . Dalam keterbatasan waktu yang dimiliki Miller  harus bekerja cepat.</p>
<p>Dokumen proyek WMD Saddam didapat Lawrie Dyne, sang reporter, rupanya  dari sumber kedua, seorang petinggi di Washington. Sumber utamanya  adalah seseorang yang disamarkan : “Magellan”. Ia seorang Irak.  Berangkat dari sumber itulah, laporan itu muncul. Miller yang frustasi  karena selalu gagal menemukan senjata pemusnah massal itu mulai curiga  ada sesuatu yang janggal. Ia bahkan tegas mengatakan laporan inteligen  tidak bisa dipercaya.</p>
<p>Lawrie sendiri sebenarnya sudah mencoba mencari data tambahan ke  berbagai sumber, tetapi selalu dihalangi oleh pejabat di Pentagon.  Jelas, tujuannya adalah untuk membuat isu itu berkembang seperti yang  diyakini saat ini.</p>
<p>Paul Greengrass, sang sutradara, sengaja menciptakan konflik internal  di dalam misi ini. Persis seperti ketika ia menggarap film “Bourne  Supremacy” dan ”The Bourne Ultimatum”. Entah mengapa Matt Damon selalu  ditokohkan sebagai orang yang kerap berseberangan dengan sebuah misi,  dan selalu soal inteligen.</p>
<p>Film berdurasi 1 jam 45 menit ini memang penuh ketegangan. Layaknya  film perang, banyak sekali  gambar  bergoyang karena menggunakan teknik <em>hand-held</em>.  Tentu maksudnya agar anda seolah berada dalam kancah konflik ketika  menontonnya. Yang menarik, film ini juga soal perang inteligen.</p>
<p>Bagaimana kemudian, Miller ternyata juga didukung secara diam-diam  oleh kepala CIA Bagdad Martin Brown (Brendan Gleeson). Ambisi Miller  untuk mengungkap kebohongan laporan soal WMD awalnya berjalan mulus,  berkat bantuan Freddy (Khalid Abdalla), seorang warga Irak.</p>
<p>Sayangnya, gerakan mereka terendus. Miller harus berkejaran dengan  pasukan lain mengejar sumber penting laporan palsu itu : Mohammed Al  Rawi. Tak jelas alasan apa yang membuat Al Rawi  harus membuat laporan  bohong dan disebarkan ke inteligen AS. Mungkin lawan politik Saddam?  Yang pasti ia menyesali keputusannya. Dan terang-terangan ingin  memerangi pasukan AS.</p>
<p>Kisah ini memang lumayan menarik. Mungkin karena diinspirasi dari  sebuah buku karya Rajiv Chandrasekran berjudul ‘Imperial Life in the  Emerald City: Inside Iraq’s Green Zone’. Akhir film yang dibuat di  Maroko, Inggris dan Spanyol ini sungguh tidak enak.</p>
<p>Memang, Miller dengan begitu emosi bisa menyebarkan laporan  inteligennya pada media, termasuk Wall Street Journal. Cuma ini yang  membuat Lawrie benar-benar terpukul. Kredibilitasnya sebagai reporter  dipertaruhkan. Miller  terang-terangan membantah laporan investigasi  Lawrie. Tajuk laporan Miller : “Falsification of MWD Interl, The Truth  About “Magellan”.</p>
<p>Apakah laporan Miller lantas dipercaya? Belum tentu. Sumber kunci  kebohongan : Mohammed “Magellan” Al Rawi ditembak Freddy, yang kecewa  negaranya “dijual”. [ahm]</p>
<p>Bojong Kulur: 22:04:2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/intansatu.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/intansatu.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/intansatu.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/intansatu.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/intansatu.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/intansatu.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/intansatu.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/intansatu.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/intansatu.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/intansatu.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/intansatu.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/intansatu.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/intansatu.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/intansatu.wordpress.com/171/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=171&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://intansatu.wordpress.com/2010/04/22/kejujuran-setengah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21778a7aadc2da2f5e6a33d35e086fd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://intansatu.files.wordpress.com/2010/04/green-zone.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">green zone</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Cinta dan Ideologi</title>
		<link>http://intansatu.wordpress.com/2010/04/08/antara-cinta-dan-ideologi/</link>
		<comments>http://intansatu.wordpress.com/2010/04/08/antara-cinta-dan-ideologi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 13:50:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PEPING AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[http://ahmadi74.wordpress.com/]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://intansatu.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Sinopsis dan Tinjauan Film “From Paris With Love” Jika anda pemuja cinta, bersiaplah kecewa. Ternyata, cinta bukan segalanya. Tak percaya? coba saja tengok adegan di penghujung film “From Paris With Love”. Dengan bengis agen CIA James Reese (Jonathan Rhys Meyers) &#8230; <a href="http://intansatu.wordpress.com/2010/04/08/antara-cinta-dan-ideologi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=169&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sinopsis dan Tinjauan Film “From Paris With Love”</p>
<p><a href="http://ahmadi74.files.wordpress.com/2010/04/frompariswithlove_11.jpg"><img title="frompariswithlove_1" src="http://ahmadi74.files.wordpress.com/2010/04/frompariswithlove_11.jpg?w=300&#038;h=217&#038;h=217" alt="" width="300" height="217" /></a>Jika anda pemuja cinta, bersiaplah  kecewa. Ternyata, cinta bukan segalanya. Tak percaya? coba saja tengok  adegan di penghujung film “From Paris With Love”. Dengan bengis agen CIA  James Reese (Jonathan Rhys Meyers) menembak pujaan hatinya, Caroline  (Kasia Smutniak),  tepat di tengah kening. Demi misi penyelamatan, ia  harus melakukan itu. Lantas dimana kekuatan cinta?</p>
<p>Reese memang tidak ada pilihan untuk menembak mati kekasihnya, yang  tak lain teroris Pakistan yang sengaja disusupkan pada sebuah acara  resmi kenegaraan Africa Summit di Paris.  Juga tidak ada cinta sejati,  kecuali ideologi. Caroline adalah sebuah misi. Di sekujurnya dilingkari  bom yang siap membinasakan para delegasi.</p>
<p>Teroris paham betul, kelemahan pria salah satunya ada pada kemolekan  perempuan. Caroline yang sejatinya tak sungguh mencintai staf Dubes AS  untuk Prancis Bannington itu, memberinya sebuah cincin tunangan, yang  juga berfungsi sebagai sebuah sinyal. Kebutaan cinta membuat segala  gerak Reese mudah terpantau. Sikap melankolis seperti ini memang  berbahaya untuk seorang agen rahasia.</p>
<p>Itulah barangkali alasan CIA mengirim Charlie Wax (John Travolta).  Pria gempal, berkepala plontos ini disosokkan Pierre Morel, sang  sutradara, sebagai pria kejam, tegas, <em>slengean</em>, juga humoris.  Wax, memang mirip pemoles cat kendaraan. Ia dengan gampang  ‘membersihkan’  siapa saja yang membahayakan misi.</p>
<p>Termasuk teman wanita Caroline, Nicole, yang secara kebetulan  menerima telepon nyasar. Di saat mereka berempat bersiap makan malam,  dengan tanpa belas kasih Nicole ditembak di pelipis kiri oleh Wax, hanya  gara-gara ia menyebut kata ‘Rose’ : sebuah kata sandi teroris yang  dipahami Wax. Film ini memang jauh dari judulnya. Mungkin ingin  menyamarkan kesan kejam yang sungguh diumbar dalam film berdurasi 1,5  jam itu.</p>
<p>Aksi yang dipertontonkan memang asyik untuk dilihat, terutama bagi  penggemar menonton film kekerasan. Juga kalau anda senang film yang  memamerkan gadget, atau detektif mungkin sayang untuk melewatkan film  ini. Masalah utama film ini adalah, di salah satu adegannya mengapa  harus dipampang besar-besar tulisan Allah dalam aksara Arab, pada sebuah  dinding markas teroris yang disambangi Wax dan Reese.</p>
<blockquote><p>Rasanya itu tak perlu, karena seolah ingin mengidentikan  aksi teror adalah sebuah perintah agama. Sungguh menyakitkan!!!</p></blockquote>
<p>Anehnya lagi, bagaimana bisa Caroline mampu menembus barikade  pengawasan super ketat, padahal ia membawa begitu banyak bom mematikan  meski tubuhnya dibalut jubah kuning hingga menutup kepala. Apa karena ID  yang dicurinya dari Reese.Terlalu konyol kalau begitu</p>
<p>Yang pasti, produk-produk film garapan Hollywood memang sebuah  propaganda. Misi dibalut sebuah cerita. Penonton dituntut kritis dalam  menyaksikan sebuah film. Jangan terlena oleh kehebatan aksi dan  animasinya yang jujur diakui memang enak untuk ditonton. [ahm]</p>
<p>Bojong Kulur: 08:04:10</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/intansatu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/intansatu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/intansatu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/intansatu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/intansatu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/intansatu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/intansatu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/intansatu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/intansatu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/intansatu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/intansatu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/intansatu.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/intansatu.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/intansatu.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=169&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://intansatu.wordpress.com/2010/04/08/antara-cinta-dan-ideologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21778a7aadc2da2f5e6a33d35e086fd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ahmadi74.files.wordpress.com/2010/04/frompariswithlove_11.jpg?w=300&#38;h=217" medium="image">
			<media:title type="html">frompariswithlove_1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Gadungan</title>
		<link>http://intansatu.wordpress.com/2010/03/15/pendekar-gadungan/</link>
		<comments>http://intansatu.wordpress.com/2010/03/15/pendekar-gadungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 09:34:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PEPING AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kenangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://intansatu.wordpress.com/2010/03/15/pendekar-gadungan/</guid>
		<description><![CDATA[Nafasku tiba-tiba sesak. Mataku terbelalak mengumpulkan kekuatan menghalau serangan yang secara mendadak menyerbu dari segala penjuru : belakang, depan, dan dua sisi samping. Lima pemuda tanggung ini seperti hilang akal. Dengan dengus menderus, mereka tanpa ampun bernafsu ingin menerkamku. Tangannya &#8230; <a href="http://intansatu.wordpress.com/2010/03/15/pendekar-gadungan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=168&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nafasku tiba-tiba sesak. Mataku terbelalak mengumpulkan kekuatan  menghalau serangan yang secara mendadak menyerbu dari segala penjuru :  belakang, depan, dan dua sisi samping. Lima pemuda tanggung ini seperti  hilang akal. Dengan dengus menderus, mereka tanpa ampun bernafsu ingin  menerkamku. Tangannya dimaju-mundurkan. Telapaknya tegak lurus diarahkan  tepat ke dadaku. Kakinya serempak maju selangkah-selangkah. Mata tajam  itu menghunus tepat ke mukaku.</p>
<p>Aku waspada dengan segala kemungkinan. Ekor mataku bergerak cepat ke  kiri-ke kanan, agar tak kecolongan. Sesekali aku geser kuda-kuda ke  samping. Dari belakang, bisa saja musuhku itu memberikan hajaran  mendadak. Waktuku makin sempit. Tidak banyak lagi kesempatan untuk  mempertahankan diri. Lengah sedikit, tubuhku bisa-bisa remuk dihajar  pemuda tanggung itu.</p>
<p>Aku memejam. Tenaga, ku kumpulkan sebisa-bisanya. Kakiku membentuk  kuda-kuda kokoh. Nafas, aku tarik dalam-dalam hingga terpusat di dada.  Dua tanganku membentang, kemudian ditelungkupkan di atas kepala, sebelum  kemudian kutarik sejajar puting susuku. Huaaaaaaah&#8230;&#8230;&#8230;!!! Suaraku  menggelegar bersamaan dengan hentakan kaki kiriku dan dorongan dua  telapak ke arah depan, juga samping. Aku juga memutar ke arah belakang.</p>
<p>Gubraggggggk&#8230;.Bragggg!!! satu-satu musuhku lantak ke bumi. Ada  satu-dua yang mencoba bangkit. Ku hentak lagi. Ia terhuyung-huyung,  sebelum akhirnya tergeletak. Mereka  kehabisan nafas&#8230;..</p>
<p>***</p>
<p>Aku mendapatkan ilmu itu secara tidak sengaja. Karena kebetulan saja  aku dan lima kawan IntanSatuku dulu aktif di mesjid. Adalah pembina  remaja mesjid yang mengajak kami menuntut ilmu bela diri bergaya gaib  seperti itu. Dulu, ketika kami masih anak-anak dan bersekolah SD, kami  pernah juga belajar bela diri Tapak Suci, tapi  tidak pernah tuh diajari  seperti itu. Aneh, sekaligus menantang. Tawaran untuk bergabung pun  kami amini.</p>
<p>Keanehan perguruan silat ini sebenarnya sudah muncul sejak awal.  Ketika kami dibaiat, sang Guru mengisi ilmu ke dalam tubuh kami. Tubuhku  ketika itu bergeletar hebat. Tanganku seperti kesetrum. Yang  menakjubkan, tanganku bisa bergerak-gerak sendiri. Batang leherku  seumpama mainan Yogya, bergodek-godek sulit dihentikan.</p>
<p>Itu belum seberapa, beberapa kawanku yang mendapatkan giliran  sebelumnya bahkan bertingkah seperti maung. Mengaum, berguling,  mirip  betul macan yang sedang birahi. Kami terkekeh mencermati kelakuannya.</p>
<p>Nah, ini yang membuat kami rada ragu. Di tiap-tiap akhir baiat, kami  diminta untuk menyetorkan sejumlah uang. Masing-masing orang berbeda  rupiah.</p>
<p>Aku ketika itu dikenakan Rp 150-ribuan. Gilaaaa!!! uang sebanyak itu  dari mana. Untuk bayar uang semesteran saja sudah empot-empotan. Kawanku  yang lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Yang membuatku geli,  darimana sang Guru mendapatkan jumlah itu. Katanya,ia mendapatkan  telepati dari &#8216;atasannya&#8217;. Hmmm,&#8230;.aku masih sulit menerima. Baik  secara definitif maupun kuantitatif.</p>
<p>Kami juga diberikan keringanan. Uang baiat bisa dicicil. Hahhh??  seperti bayar kredit panci keliling aja, ya. Bedanya, ini bisa dibayar  kapan saja. Tetap saja aku sulit menyanggupi. Tapi kami tak terlalu  serius menanggapinya. Latihan sih jalan terus. Dan, syukurnya, karena  sering aktif di mesjid, lantai dua yang sering kosong, bisa dijadikan  arena pertempuran. Hanya sekali-dua kalau tak salah kami mengikuti  pertemuan masal sesama saudara seperguruan. Itupun tak sampai berjumpa  dengan sang Guru Besar.</p>
<p>Hingga kami hengkang, rasanya tak satupun dari kami yang memenuhi  janji untuk membayar uang muka itu. Itu barangkali yang membuat ilmu ini  tersendat ditransfer meski sering dilatih. Tapi aku heran meski tubuhku  seperti tidak ada kesaktian mengapa kawan-kawanku terpelanting sampai  beruling-guling kalau aku hentaak???</p>
<p>Baik, aku akui saja di sini. Ketika posisiku sebagai penyerang,  sejatinya aku tak merasa ada penghalang, tepat ketika kawanku sebagai  objek menghentak-hentakan kaki atau teriak-teriak. Kalau mau, aku bisa  saja terus maju dan memukul kawanku yang sedang kesumat dengan mudah.  Tapi tindakan ini tentu tidak etis toh??</p>
<p>Tapi demi solidaritas, aku ikut berguling-guling. Dan, akting itu aku  lakoni selama kami latihan. Ada dua alasan. Aku berupaya empati  terhadap kawanku yang tentu ingin sekali terlihat sakti. Kedua, aku juga  ingin dong dianggap sakti. Kalau aku tidak berguling-guling,  jangan-jangan mereka juga enggan pula berguling-guling kalau aku serang.</p>
<p>Aku tak ingat, mengapa kami akhirnya benar-benar berhenti dari  perguruan itu. Bosan bersandiwarakah? atau memang instink kami saja yang  tak bisa menerima hal-hal tak masuk diakal seperti itu. Apa mereka  punya alasan lain? tanya saja langsung&#8230;</p>
<p>Bojong Kulur: 15:03:2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/intansatu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/intansatu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/intansatu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/intansatu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/intansatu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/intansatu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/intansatu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/intansatu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/intansatu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/intansatu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/intansatu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/intansatu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/intansatu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/intansatu.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=168&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://intansatu.wordpress.com/2010/03/15/pendekar-gadungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21778a7aadc2da2f5e6a33d35e086fd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dilumat Dendam</title>
		<link>http://intansatu.wordpress.com/2010/02/23/dilumat-dendam/</link>
		<comments>http://intansatu.wordpress.com/2010/02/23/dilumat-dendam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 01:50:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>intansatu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[http://ahmadi74.wordpress.com/2010/02/22/akhir-sebuah-pengkhianatan/]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://intansatu.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Sinopsis dan Tinjauan Film &#8220;Edge of Darkness&#8221; Ayah mana yang rela menyaksikan anaknya diberondong senapan mematikan, di tangga teras rumah, tepat di saat putri tunggalnya itu ingin menyampaikan sesuatu rahasia. Penonton diawal film sudah dimainkan emosinya oleh sang sutradara, Martin &#8230; <a href="http://intansatu.wordpress.com/2010/02/23/dilumat-dendam/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=163&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sinopsis dan Tinjauan Film &#8220;Edge of Darkness&#8221;</p>
<p><a href="http://ahmadi74.files.wordpress.com/2010/02/edge_of_darkness_poster.jpg"><img class="alignleft" title="edge_of_darkness_poster" src="http://ahmadi74.files.wordpress.com/2010/02/edge_of_darkness_poster.jpg?w=202&#038;h=188" alt="" width="202" height="188" /></a>Ayah mana yang rela menyaksikan anaknya diberondong senapan mematikan, di tangga teras rumah, tepat di saat putri tunggalnya itu ingin menyampaikan sesuatu rahasia.</p>
<p>Penonton diawal film sudah dimainkan emosinya oleh sang sutradara, Martin Campbell. Sungguh, tema &#8220;Edge of Darkness&#8221; bukan hal baru. Bahkan, membosankan. Alur cerita yang begitu mudah ditebak dan terlalu umum, untuk sebuah karya yang mestinya pantas dimainkan pada era 90-an : sebuah tema lingkungan dan isu nuklir yang marak ketika itu. Bisa jadi karena film pertama Gibson setelah absen pada 2002 di film &#8220;Signs&#8221; diangkat dari sebuah serial teve tahun 1985.</p>
<p>Plot cerita mengalir begitu lambat, terlalu banyak obrolan dari satu tokoh ke tokoh lainnya.  Sebuah konspirasi tingkat tinggi yang melibatkan pejabat juga bukan hal baru. Gibson dipaksa untuk masuk dalam pusaran intrik yang melibatkan para penegak hukum. Ini, bahkan, juga kerap kita temui di tema-tema film dalam negeri.</p>
<p>Mel Gibson yang begitu dikenal sebagai aktor laga, seperti kurang tertantang. Gibson memang mengikuti kursus menembak demi memerankan Thomas Craven di  film ini. Sayang, aksi itu tidak terlalu memukau.  Gerakan fisiknya mungkin memang dibatasi, mengingat usianya yang tak lagi muda: 54 tahun. Pun begitu, sebagai aktor kawakan, Gibson tetap enak untuk dilihat. Ia cerdas, taktis dan tetap gesit menemukan satu demi satu rangkaian kejadian yang membawanya pada pembunuhan dan motif sesungguhnya dari kematian  Emma Craven (Bojana Novakovic).</p>
<p>Sebagai seorang veteran polisi Bagian Pembunuhan di Boston, kematian Emma semula diduga sebagai sasaran antara, dari target utamanya, Thomas Craven. Tapi, sebuah petunjuk awal dari pistol yang ditemukan Craven di kamar Emma membawanya pada sebuah jawaban penting. Ia terlibat kasus serius hingga terancam dibunuh.</p>
<p>Dari pucuk senjata itu, rangkaian mulai terkuak. Bekal pistol itu rupanya dari sang pacar, Burnham (Shawn Roberts), yang tak menginginkan kekasihnya mati tertebak, meski keduanya tahu, Emma telah diracun oleh suatu zat radioaktif mematikan. Sebagai insyur bermoral, hatinya tergerak ketika menemukan fakta bahwa perusahaan tempatnya bekerja, Northmoor, telah melakukan perselingkuhan keji dengan Departemen Pertahanan.</p>
<p>Emma terlalu jauh melangkah, tapi tak surut tekad, walau ia tahu pasti tiga rekannya yang tergabung dalam organisasi pecinta lingkungan, Nightflower, telah mati sebelumnya. Craven, yang mengetahui sepak-terjang anaknya melalui sebuah video yang dibuatnya, makin yakin anaknya telah menjadi target sasaran sebuah konsipirasi negara.</p>
<p>Maka ditugaskanlah Jedburgh (Ray Winstone) agen CIA untuk membersihkan jejak pembunuhan Emma. Tapi sebuah dendam sulit dipadamkan. Craven makin berang, dan mendatangi satu-satu pembunuh Emma. Termasuk bos Northmoor, Bennet (Danny Huston) yang ditembak di rumah mewahnya, setelah sebelumnya dijejali susu beracun yang juga terlanjur diminum Craven.</p>
<p>Garis merah film ini adalah soal penghianatan. Craven tiga kali dikhianati. Pertama, oleh rekan kerjanya sendiri yang nyaris membuatnya terbunuh oleh cecunguk Bennet. Kedua, penghianatan terhadap hati nurani. Soerang senator, bernama Pen ternyata bagian dari konspirasi demi motif ekonomi. Northmoor adalah tambang uang bagi Massachusetts . Ketiga, pengacara yang diajak Emma untuk mengadukan kebobrokan justru berpaling dan berusaha menutupi demi sebuah ambisi : menjadi jaksa wilayah.</p>
<p>Ending yang dibuat Campbell agak unik. Para tokoh utamanya tewas. Pengacara sableng, senator gila serta orang pemerintah sinting tewas di ujung pistol Jedburgh. Agen CIA itu jengah menyaksikan kebusukan dan jijik melihat konspirasi kotor dan ingin mengakhiri drama konyol itu. Ia sendiri tewas oleh polisi penjaga Senator Pen.</p>
<p>Craven, akhirnya dilumat dendamnya sendiri, &#8220;dijemput&#8221; Emma untuk pergi bersama meninggalkan rumah-sakit, setelah tak tertolong akibat peluru yang bersarang di dada, juga racun yang ditenggaknya.  [ahm]</p>
<p>Gelora : 22:02:2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/intansatu.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/intansatu.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/intansatu.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/intansatu.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/intansatu.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/intansatu.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/intansatu.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/intansatu.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/intansatu.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/intansatu.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/intansatu.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/intansatu.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/intansatu.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/intansatu.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=intansatu.wordpress.com&amp;blog=9263022&amp;post=163&amp;subd=intansatu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://intansatu.wordpress.com/2010/02/23/dilumat-dendam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a315e2f288157d78d1f60c501afcd9de?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">intansatu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ahmadi74.files.wordpress.com/2010/02/edge_of_darkness_poster.jpg?w=202" medium="image">
			<media:title type="html">edge_of_darkness_poster</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
